Tegal
– Kota bahari mungkin sering kalian dengar karena warteg atau pelabuhannya.
Tapi akhir Agustus ini, kota pesisir itu lagi punya gaung lain: Tegal Art
Festival 2025 dengan tajuk “Sanubahari”. Sebuah pameran seni rupa yang bukan
cuma soal pajang karya, tapi juga ajakan buat ngobrol, berdialog, dan ngerasain
denyut kultural Tegal dari jarak dekat.Dokumentasi Sanubahari 2025
Bertempat di Markas Komando Pangkalan TNI
AL Tegal, Jalan Proklamasi No.1, Tegal Barat, pameran ini sudah dibuka mulai 23
sampai 29 Agustus 2025, dari jam 09.00 sampai 21.00 WIB. Lokasi yang unik,
markas laut jadi ruang seni kayak ngasih sinyal bahwa Tegal pengin nunjukin
identitasnya lewat laut, sejarah, dan keseharian warganya.
Bukan Sekadar Seni, Tapi JejaringDokumentasi Sanubahari 2025
“Sanubahari” hadir sebagai wadah buat
seniman, komunitas, dan publik untuk nyambung. Di sini, karya jadi medium, tapi
yang lebih penting adalah percakapan. Dari lukisan sampai instalasi, setiap
visual jadi pintu buat ngomongin apa yang sering terlewat di ruang arus utama.
Soal identitas, soal Tegal yang lebih dari sekadar kota persinggahan.
Tujuan festival ini cukup jelas, ngedorong
semangat berkarya, memperkuat jejaring antar pelaku seni, dan bikin kita makin
deket sama budaya lokal. Di tengah arus globalisasi yang sering bikin hal-hal
lokal ketiban bayangan, Tegal justru mutusin buat angkat suaranya lewat seni.
Ruang Pinggiran, Nada Intim
Kalau biasanya festival seni besar condong
ke pusat kota dengan galeri megah, Sanubahari justru main di ruang pinggiran.
Sebuah markas laut yang selama ini identik sama dunia militer. Kontrasnya
justru bikin acara ini terasa lebih jujur: seni turun ke ruang yang sehari-hari
nggak dipikirin orang buat pameran. Ada semacam pernyataan bahwa kultur Tegal
nggak butuh panggung eksklusif, cukup ruang buat didengar dan dirayakan.
Identitas yang Dirawat